ibnjaldun.com

Ini Awal Mula Pendudukan Israel di Palestina Menurut Quraish Shihab

Aksi damai bela Palestina di Kota Cirebon Ini Awal Mula Pendudukan Israel di Palestina Menurut Quraish Shihab/Foto: Ony Syahroni

Jakarta, News -

Sebelum menguasai tanah di Palestina, orang Yahudi sudah sangat dibenci. Seperti di zaman Adolf Hitler, orang-orang Yahudi banyak dibantai yang dikenal sebagai peristiwa Holocaust.

Hal itu yang menyebabkan orang Yahudi terpencar ke berbagai negara, ada yang ke Yunani, Inggris, Perancis, Rusia, Eropa, dan lain sebagainya. Inilah alasan mereka ingin bersatu dan mendirikan negara sendiri.

Pada Perang Dunia I (1914-1918), terjadi peperangan yang melibatkan Inggris, Amerika, dan sekutunya, melawan Kesultanan Utsmaniyah.

ADVERTISEMENT

Saat itu, Menteri Luar Negeri Inggris berjanji akan memberikan negara kepada orang-orang Yahudi, agar mereka membina negara tersebut dan menyatukan mereka kembali.

Diusulkan tiga tempat, ada pula yang berkata empat tempat, yang pertama Argentina, Uganda, Palestina, dan ada yang berkata juga Afrika Selatan.

Orang-orang Yahudi pun memilih Palestina, mereka mencari dalih keagamaan dan ditemukanlah di dalam Perjanjian Lama, bahwa "Tuhan menjanjikan untuk orang Yahudi itu negeri leluhur mereka: Palestina di mana Nabi Sulaiman dan Nabi Daud pernah berkuasa."

Namun, jika kita membaca Perjanjian Lama, maka kita menemukan janji Tuhan itu kepada Nabi Ibrahim, bahwa "Keturunanmu itu diberi janji negeri di Al Ardlil Muqaddasah, Negeri yang Suci."

"Kalau memang kita berkata itu janji kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya, otomatis orang Arab juga dong punya hak di sana, Iya, kan?" tanya Prof Quraish Shihab dikutip dari akun YouTube Bayt Al-Qur'an, Selasa (21/11) saat membahas soal sejarah pendudukan orang-orang Yahudi ke Palestina.


Namun, mereka tidak mau mengakui orang Arab sebagai anak Nabi Ibrahim. Hal itu disebabkan karena Nabi Ibrahim menikah dengan perempuan budak. Menurut mereka, anak keturunan itu bukan ditentukan oleh ayah, melainkan oleh ibu.

"Itu alasan mereka. Tapi kalau kita tidak, itu anak Nabi Ibrahim mestinya, betapa pun," sambung ulama kelahiran 1944 itu.

Dalam PD I itu, Inggris dan Sekutu menang melawan Kesultanan Utsmaniyah. Menurut Prof Quraish, hal tersebut menimbulkan ambisi negeri-negeri Islam dan Arab. Mesir berambisi untuk memimpin negeri-negeri Islam dan Yordania berambisi memiliki tanah yang luas.

Namun, dalam janji Inggris tersebut terdapat pesan bahwa mereka harus hidup berdampingan, antara orang Arab dan orang Yahudi, tetapi terjadi kekacauan karena Inggris meninggalkan Palestina dan membiarkan keduanya berperang.

Orang Arab pun kalah dalam perang dan diusir dari Palestina pada tahun 1948. Padahal saat itu, mayoritas penduduk Palestina adalah orang Arab, di mana orang Yahudi baru sekitar 5 persen dari penduduknya.

Sekarang penduduk Israel kurang lebih sebanyak 10 juta, tetapi kekuatan yang mereka miliki karena mendapat bantuan dari Amerika dan Inggris.

Pada tahun 1973 terjadi perang Ramadan di Mesir, pertahan Israel pun hancur. Pimpinan Angkatan Darat Mesir kemudian mengatakan bahwa ini merupakan kesempatan untuk menguasai Yerusalem. Namun, Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, tidak mau karena tidak sanggup melawan Amerika Serikat.

"Jadi di belakang dia itu ada yang menjadikan dia kuat, bukan Israelnya, bukan Yahudinya, yang 10 juta itu. Sekarang aja semua ragu-ragu, kan?" tanya Prof Quraish.

Prof Muhammad Quraish Shihab juga mengatakan bahwa tidak semua orang Yahudi itu jahat. Saat ini, orang Yahudi terbagi menjadi dua, ada yang baik dan ada yang buruk.

"Yang buruk itu namanya Zionis, itu yang berkuasa sekarang. Di Israel ada orang-orang Yahudi yang mengecam itu, di Amerika ada protes-protes dari orang-orang Yahudi yang tidak setuju, ini bertentangan dengan kemanusiaan, ini masa anak kecil dibunuh, masa rumah sakit dibom," ujarnya

"Jadi dorongan kemanusiaan itu ada, ada yang begitu. Yang jahat itu Zionis, yang berkuasa sekarang di Israel itu Zionis, ini shuhyun, shuhyuniyin, kita berhadapan dengan mereka," sambung Prof Quraish.

Prof Quraish menjelaskan bahwa Palestina memiliki banyak organisasi. Tahun 1964, terdapat organisasi yang terhimpun dalam PLO, Organisasi Pembebasan Palestina.

PLO sudah bersedia untuk berdamai dan menyetujui keputusan PBB, yaitu akan ada dua negara, Israel dan Palestina. Namun, Israel menolak dan terus ingin mengambil wilayah Palestina dengan mengambil dataran tinggi Golan.

Ada pula organisasi Palestina lainnya yang tidak mau bergabung dengan PLO, yaitu Hamas. Hamas sendiri dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslimin dan yang saat ini sedang berperang dengan Israel.

Ketika PBB mengusulkan dua negara dan ada perdamaian, Hamas dengan keras menentang hal tersebut.

Hamas berkata, "Saya tidak mau dua negara, masa saya punya keluarga diusir, ke mana?" kata Prof Quraish, menirukan. Lalu Israel menjawab, "Sudahlah, orang Palestina tinggal saja di negeri-negeri Arab."

"Kemarin ini waktu duduki Gaza, Israel berkata, 'Ayolah, mengungsi ke Mesir, ke Rafah.' Mesir tolak, tidak mau. Kenapa? Karena kalau dia terima orang-orang Palestina, menjadilah mereka pengungsi-pengungsi, makin senang Israel. Tidak ada yang ganggu dia. Itu persoalannya," tandas Prof Quraish.

(Zalsabila Natasya/and)
Tonton juga video berikut:

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat